Warisan

Warisan

Artikel Celoteh Opini Rujak Lambe Teks

Yang beragama bukan dari keturunan sapa, hayo???

Mungkin kuterlalu mempermasalahkan kesadaran dalam kehidupan. Ketimbang khayalan, atau dongeng kanak-kanakku. Apalah dikata, kutelanjur hidup dengan agama budaya…

Sebuah penghayatan yang secara tidak sadar memenjarakan diri dalam pemahaman eksklusif.

Aku tak mengerti kenapa dulu aku diajarkan agama di bangku sekolah. Mungkin karena takut ga dapet nilai kali ya…

Lalu kapan aku diberi kebebasan memilih agamaku??? Saat diri ini beranjak dewasa dengan kesadaran? Atau tanpa pilihan karena endoktrinasi yang terlalu dalam??

Kumencintai Tuhan tanpa batas, termasuk batas agama. Karena kuberTuhan dengan caraku. Bukan beragama tapi tak selalu berTuhan… Memang sulit, tapi inilah pilihanku, menjadi munafik demi sebuah status di lembar kewarganegaraan. Inilah privasi KeTuhanan menurutku… Cuma urusanku denganNya…

Kubersyukur tetap memiliki Tuhan meski entah dengan bagaimana caranya. Tapi setidaknya Dialah penjaga lakuku, bukan karena agama kita terpecah-belah, bukan karena agama aku merasa surga adalah milikku…

Otak dan pemikiranku adalah anugerahMu yang paling hebat, dengan selalu memikirkanMu dan mengingatMu. Kalo pada orang mungkin bisa dibilang aku mencintai kekasihku dan memahami kekurangannya. ..

Emang Tuhan punya kekurangan?
Katanya seh enggak …
Terus gimana caranya mencintaiMu????

Baca Juga  Makna Pepatah Jawa Kakehan Gludhug, Kurang Udan