tulisan opini artikel

Kehidupan berubah pasca pandemi COVID19 menerpa hampir di seluruh penjuru dunia. Semua orang ketakutan dan kematian menghantui di tiap keluarga. Banyak dari kita kehilangan sanak saudara, teman dan rekan kerja. Ekonomi menurun, bisnis hancur, hingga pengangguran merajalela.

Ada yang merampas hak orang lain, lalu mati muda. Ada yang menyembah diri dan dunia, lalu Tuhan mencukupkan keakuannya. Siapakah kau pencabut nyawa? Pembakar durjana congkak tak tahu tata krama.

Ulah siapa semua ini?

Keterasingan akan kondisi yang terpaksa / dipaksa tak dapat bergerak dan memasuki era baru. Latah informasi dan kesombongan atas ilmu teruji dengan kecerdasan bahwa dunia ini sebenarnya adalah fana. Tak ada kesejatian abadi.

Penulis tersadar melalui fenomena padamnya api abadi.

Gagap kepada kepatuhan bahwa disiplin adalah solusi untuk tetap bertahan di saat yang lain menyerah. Patuh pada protokol kesehatan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta bersyukur atas anugerah Tuhan atas kehidupan.

Dalam pengalaman penulis sebagai seorang yang bergerak di dunia Teknologi Informasi, cukup dilematis memang. Tuntutan akan perubahan saat semua berbasis digital berbanding dengan aturan mengurangi interaksi sosial.

Lalu, dimana jawaban atas keyakinan kami tentang “silaturahmi adalah jalan rezeki”?

Persaingan sehat dan kompetensi dihancurkan monopoli oleh segelintir elit lingkaran penguasa. Mengikisnya kemanusiaan karena semua berlomba untuk bertahan hidup. Target income yang masih menjadi berhala karena terlilit hutang. Seakan besar namun sebenarnya kembung.

Baca Juga  Arti Peribahasa Ada Asap Ada Api