
Novel Ruang Memori

Bab 3: Nurani Terhimpit
Jika Pak Hasan adalah wajah depan yang berkilau, maka Mbak Ratna adalah mesin yang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya hingga nyaris terbakar.
Dito, Aris, dan Bayu diarahkan ke sebuah ruangan di sudut lorong yang lebih sempit. Di sana, di antara benteng lemari arsip baja yang berkarat, duduk seorang wanita muda dengan kacamata berbingkai tipis. Namanya Ratna. Ia tampak tenggelam dalam lautan kertas kusam yang aromanya seperti debu yang telah memadat menjadi takdir.
“Ini mahasiswa yang dibilang Pak Hasan tadi, Mbak,” ujar petugas keamanan sebelum berlalu.
Mbak Ratna mendongak. Matanya yang lelah tampak seperti layar monitor yang kehilangan kecerahannya—redup, dengan lingkaran hitam yang menggantung di bawahnya. Ia memaksakan sebuah senyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Senyum itu hanyalah sebuah protokol kesopanan yang tersisa di tengah keletihan yang kronis.
“Duduk saja di mana yang kosong,” suaranya lirih, sehalus gesekan kertas. “Maaf, ruangannya berantakan. Saya sedang mencoba memilah mana data yang harus di-input dan mana yang harus… dibiarkan hilang.”
Dito duduk di sebuah kursi kayu yang berderit. Ia memperhatikan tangan Mbak Ratna yang gemetar saat memegang pulpen. Di atas mejanya, sebuah komputer Pentium III menderu keras, kipas prosesornya berbunyi seperti napas seseorang yang sedang sesak. Di layar monitor itu, kursor berkedip-kedip menanti entri data—sebuah perintah kosong yang menagih nyawa pada seseorang yang sudah kehabisan energi.
“Mbak sudah lama di bagian ini?” tanya Dito pelan, mencoba membuka percakapan sambil mulai menyalakan komputer cadangan di sebelahnya.
Mbak Ratna menghela napas panjang. “Cukup lama untuk tahu bahwa di sini, angka tidak selalu berarti jumlah. Terkadang, angka adalah tabir.”
Aris dan Bayu sudah sibuk membongkar tumpukan berkas, sesekali bercanda tentang betapa kunonya sistem pengarsipan ini. Namun Dito tetap terpaku pada Mbak Ratna. Ia melihat bagaimana wanita itu memandangi sebuah kuitansi dengan tatapan kosong. Di mata batin Dito, bayangan di sekitar Mbak Ratna tampak berbeda.
Tidak ada serdadu Belanda di belakangnya. Yang ada justru ribuan benang transparan yang mengikat jemarinya, menghubungkan setiap gerakannya ke langit-langit plafon, seolah ia adalah boneka marionette yang digerakkan oleh kehendak gedung ini. Setiap kali ia hendak menuliskan angka yang benar, benang-benang itu menegang, memaksanya untuk mengikuti alur yang telah ditentukan oleh Pak Slamet dan Pak Hasan.
“Pak Hasan orangnya baik ya, Mbak. Tadi kami langsung dikasih uang kopi,” celetuk Aris tanpa dosa.
Tangan Mbak Ratna berhenti bergerak. Ia menunduk lebih dalam. “Pak Hasan memang baik. Terlalu baik. Dan terkadang, kebaikan di tempat ini adalah racun yang dosisnya diberikan sedikit demi sedikit sampai kita tidak sadar kalau kita sudah mati di dalam.”
Suasana mendadak dingin. Bayu dan Aris saling lirik, merasa suasana menjadi terlalu serius. Namun bagi Dito, kalimat itu adalah sebuah pengakuan dosa. Ia melihat setetes air mata jatuh di atas tumpukan berkas aset, membasahi tinta hitam yang langsung melebar seperti noda kegagalan.
Mbak Ratna adalah simbol dari nurani yang sedang terhimpit. Ia tahu setiap angka yang ia manipulasi adalah pencurian terhadap hak-hak yang tak pernah sampai ke pemiliknya. Ia tahu setiap laporan yang ia “rapikan” adalah kebohongan yang sistematis. Namun, ia juga tahu bahwa di luar sana, hidup menuntut biaya, dan melawan sistem ini berarti bersiap untuk dihapus secara permanen dari daftar gaji.
“Dito,” bisik Mbak Ratna, suaranya nyaris tak terdengar oleh yang lain. “Jangan terlalu lama melihat ke dalam berkas ini. Kalau kamu terlalu lama melihat ke dalam kegelapan, kegelapan itu akan mulai melihat ke dalam dirimu.”
Dito tertegun. Ia menyentuh keyboard komputer yang berdebu, merasakan koneksi yang aneh. Di layar monitornya yang buram, ia seolah melihat aliran data yang bukan berupa kode, melainkan rintihan orang-orang masa lalu yang tanahnya dirampas demi membangun kemegahan gedung ini.
Mbak Ratna kembali mengetik. Tuk. Tuk. Tuk. Bunyi keyboard-nya terdengar seperti paku yang dipukulkan ke peti mati nuraninya sendiri. Di ruangan yang sempit itu, Dito menyadari bahwa penjajahan belum berakhir. Ia hanya berpindah dari bedil ke pena, dari paksaan fisik ke himpitan ekonomi, meninggalkan jiwa-jiwa seperti Mbak Ratna layu sebelum waktunya di balik meja-meja birokrasi yang dingin.


