cerpen misteri sahabat kecilku hendro widitomo
Buku,  Cerpen,  Fiksi,  Horor,  Misteri,  Sastra,  Story,  Teks,  Viral

Cerpen Misteri – Sahabat Kecilku | Hendro Widitomo

Hai namaku Widi, aku mau bercerita tentang masa kecilku yang menyenangkan bersama teman-teman. Kisah ini terjadi di tahun 80an di sebuah kota berkembang di sudut Pulau Jawa. Saat itu mungkin umurku baru 4 tahun. Sebuah usia yang masih penuh riang, canda tawa, dan kemanjaan dari kedua orang tua. Di rumah kami tinggal berempat. Ada bapak, ibu dan kakakku yang waktu itu yang masih berusia 6 tahun. Memang jarak usia kami cukup dekat sehingga sering bermain bersama.

Sama seperti bocah pada umumnya, kami dibesarkan di sebuah kampung yang ramai teman sepermainan. Setiap sore kami berkumpul di pelataran untuk bermain permainan tradisional. Ada kelereng, lompat tali, engklek, gobak sodor dan sebagainya. Waktu itu belum ada gadget, internet bahkan sebagian masih belum mempunyai TV maupun radio di rumah. Makanya, bermain bersama adalah satu-satunya hiburan bagi kami mengisi waktu luang. Tak mungkin kami bisa melupakan saat-saat indah itu.

Di kampung aku dikenal sebagai Si Bontot, maklum usiaku paling kecil diantara teman-teman yang lain. Kadang aku diberi kemudahan saat bermain karena badanku paling pendek. Apalagi waktu lompat tali, ga mungkin aku bisa mengimbangi tinggi mereka yang waktu itu sudah SD.

Bedug maghrib tanda kami harus pulang. Pergantian siang dan malam itu mempunyai daya magis tersendiri di sebagian keyakinan masyarakat. Konon katanya pernah ada yang hilang diculik wewe saat bermain petak umpet. Bumbu-bumbu misteri sering diceritakan orang tua menambah unik kehidupan kala itu. Meskipun kadang ga masuk akal, tapi mungkin itu salah satu cara ampuh agar anak menjadi nurut.

Jika malam, aku, kakak, dan ibu biasanya tidur bertiga di ruang keluarga. Sedangkan bapak sering keluar kota karena bekerja sebagai pemborong bangunan. Kala itu rumah kami cukup sempit, hanya ada 1 kamar, ruang keluarga dan ruang tamu. Di belakang ada dapur dan kamar mandi yang di dalamnya terdapat sumur tua yang jernih. Karena masih kecil aku tidak diperbolehkan dekat-dekat sumur itu karena cukup dalam.

Hal yang paling kubenci adalah di pagi hari, dimana ibu harus berangkat bekerja dan kakakku bersekolah. Sering aku rewel karena harus dititipkan ke rumah saudara di kampung sebelah. Meskipun lumayan dekat, aku kurang nyaman karena tak ada teman yang bisa diajak bermain. Nenekku seorang pedagang di pasar dan aku selalu diajaknya ikut jualan. Di umur sekecil itu memang termasuk hiper aktif berlari-larian kesana kemari dan punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Banyak yang mengenalku dan sering diberikan jajanan agar aku anteng bersama nenek. 

Sebelum zuhur kami sudah pulang ke rumah. Nenek bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Ada kakek yang punya kegemaran mendengarkan ketoprak di radio dan membaca buku silat. Beliau sering mendongeng dan melantunkan kidung Jawa jika aku hendak tidur siang. Tak jarang juga, aku diajari jurus-jurus pencak silat seperti adegan film kolosal di layar tancap keliling yang ngetren saat itu.

Karena sudah sepuh, kadang mereka lelah saat merawatku. Jika tak mau tidur siang aku suka memanjat pohon di samping rumah. Ada pohon jambu dan belimbing, namun aku lebih suka memanjat pohon belimbing yang tak begitu tinggi. Kakek menungguiku di kursi panjang sambil menyanyikan tembang ilir-ilir. Tak jarang juga kakek tertidur pulas di sana karena udaranya cukup sejuk di bawah rerindangan pohon jambu.

Tapi siang itu ada yang aneh, aku mendengar suara anak kecil riuh dari depan. Ada sepasang anak laki-laki dan perempuan sebayaku yang tak kukenal melambaikan tangan kearahku untuk mengajak bermain.

Aku tak mengenalnya, tapi hatiku merasa pernah bertemu dan kami segera akrab. Namanya Wahyu dan Sari, mereka memperkenalkan diri. Cuma yang kuingat mereka tak banyak bicara. Entah dari mana, saat itu aku gak merasa peduli.

“Wid … “ 

“Dalem mbah … “

Suara nenek mengagetkanku ketika sedang asyik bermain. Aku hanya bermain di teras depan dan memang tidak pergi kemana-mana. Tapi ketika nenek datang membawa makan siang, seketika Wahyu dan Sari mendadak menghilang tanpa pamit. Nenek menyuapiku dengan sayur bayam kesukaanku dengan lahapnya. Lalu aku tertidur pulas setelah kekenyangan.

Tak terasa waktu sudah sore, ibu menjemputku sepulang dari kantor. Akupun berpamitan kepada nenek dan kakek yang sangat sayang merawatku.  

Seperti biasa, selepas mandi aku bergegas ke depan rumah untuk bermain bersama tetanggaku. Aku ceritakan teman baruku ke teman-teman yang lain. Anehnya tak ada satupun yang mengenalnya. Karena merasa tak digubris akupun hanya tertunduk sembari bertanya-tanya siapa sebenarnya teman baruku itu.

Hari berganti hari… seperti biasa aku jalani dengan sangat membosankan. Sebenarnya aku tak ingin tinggal di rumah nenek. Beliau terlalu sepuh untuk kuajak bermain. Kadang aku hanya murung sendiri di kamar sambil pura-pura membaca novel milik kakek yang sama sekali tak kupahami. Jika ngambek aku suka usil dengan mencorat-coret dinding semaunya. Namun tak ada yang memarahiku, mungkin semua tahu kalau apa yang aku lakukan sekedar untuk mencari perhatian.

Yang aku heran saat-saat seperti itu Wahyu dan Sari selalu hadir. Mereka hanya mengajak bermain hanya saat aku merasa kesepian. Sejak bersama mereka aku merasa punya teman kalau lagi sendiri. Entah siapa darimana di usiaku saat itu aku tak terlalu memikirkannya.

Hingga suatu ketika kakek merasa curiga karena aku sering ngomong dan ketawa sendiri di kamar.

“Ngobrol sama siapa Wid?”

Ujar kakek sembari mengecek seisi ruang. Tapi sekali lagi mereka hilang secara misterius. Dibasuhnya mukaku dengan air kendi dan tak tahu apa maksudnya. Lalu aku digendong ke kamar untuk diajaknya tidur siang.

Malam itu aku tak bisa tidur. Sepertinya kakek berbicara dengan ibu tentang kejadian tadi siang. Aku merasa seperti orang aneh. Di sisi lain orang tua terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan akulah si bungsu yang selalu haus akan perhatiannya. Menjadi pendiam dan penyendiri.

Aku tak tahu yang akan mereka lakukan. Yang kutahu ada banyak jajan pasar yang disiapkan di beranda rumah nenek. Doa dan kidung Jawa pun dilantunkan. Karena suka dengan jajanan akupun langsung mengambilnya. Tapi siapa disangka, kakek tiba-tiba menegurku karena jajanan itu bukan untukku katanya. Lalu untuk siapa? Pikirku cuma aku anak kecil di rumah itu. Ternyata ada jajanan yang disisihkan khusus untukku di tempat yang lain.

“Ini untuk teman-temanmu kalau lagi main…”

Akupun tersenyum senang karena mungkin kakek sudah kenal dengan Wahyu dan Sari hingga menyiapkan jajan pasar untuk kami nikmati bersama sambil bermain. Namun entah mengapa sejak saat itu mereka tak juga datang. 

Waktu berlalu, hingga kemudian akupun bersekolah dan tak kutemui lagi sahabatku itu. Akupun mulai sibuk dengan teman-teman baru, walau sesekali berpikir mungkin mereka bersekolah di tempat berbeda.

Sampai saat ini, aku menulis dan bercerita di sini. Di tempat yang sama ketika kita bermain bersama. Mungkin kalian ada disini, namun tak terlihat olehku.