lamun siro sekti, ojo mateni lamun siro banter, ojo ndhisiki lamun siro pinter, ojo minteri
Arti / Makna,  Artikel,  Filosofi,  Petuah Jawa,  Sastra,  Seni & Budaya,  Teks,  Viral

Makna Pepatah Jawa Lamun Siro Sekti, Ojo Mateni Lamun Siro Banter, Ojo Ndhisiki Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri

Lamun Siro Sekti, Ojo Mateni
Lamun Siro Banter, Ojo Ndhisiki
Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri

Demikian pepatah Jawa yang dikutip presiden Joko Widodo di sosial media twitter pada tanggal 25 Mei 2019 lalu. Meskipun zaman sudah maju dengan teknologi yang berkembang sangat pesat, namun hebatnya para pemimpin kita tetap memegang teguh petuah-petuah Jawa sehingga tidak meniggalkan kearifan luhur bangsa ini.

“Lamun siro sekti, ojo mateni” bermakna meskipun kamu sakti, namun jangan membunuh.
“Lamun siro banter, ojo ndhisiki” bermakna meskipun kamu cepat, namun jangan mendahului.
“Lamun siro pinter, ojo minteri” bermakna meskipun kamu pandai, namun jangan sok pintar (membodohi).

Jika kita cermati petuah ini mengandung makna yang sangat mendalam. Perlu kita pahami secara cerdas bahwa peninggalan leluhur non materi berupa sastra dan filsafat tak kalah hebat dibanding warisan kebendaan seperti candi, prasasti, keris, dan sebagainya.

Ketika kita mencapai fase yang lebih tinggi dibanding orang lain, diharapkan jangan selalu menonjolkan diri, apalagi sampai memanfaatkan / merendahkan. Perlu sinergi bersama orang-orang di sekitar kita untuk maju bersama.

Jangan sampai membunuh orang walaupun kamu mampu membunuh orang lain. Peringatan keras kepada semua orang baik pembunuhan secara fisik maupun non fisik (pembunuhan karakter, fitnah, karir / pendapatan, dsb) tidak diperkenankan karena akan menimbulkan dendam tak berkesudahan. Kondisi ini tentu saja mengganggu stabilitas antar manusia di wilayah tertentu.

Jangan mendahului meskipun kamu mampu berjalan lebih cepat. Perlu kebersamaan dan gotong royong antar manusia untuk mencapai tujuan bersama. Sikap mendahului atau mementingkan diri sendiri hanya akan menimbulkan keirihatian dalam tatanan bermasyarakat.

Jangan kamu membodohi orang lain atau sok pintar agar orang lain ikut teredukasi secara cerdas. Adanya gap intelektualitas seyogyanya disikapi secara bijak melalui proses pelatihan, pendidikan, diskusi maupun pemahaman agar menciptakan kondisi masyarakat yang lebih maju dan harmonis di masa depan.

Baca Juga  Yang Terlelap

Laman: 1 2