Artikel,  Buku,  Cerpen,  Digital Mantra,  Digital Mantra,  Fiksi,  Horor,  HOT,  Misteri,  Musik,  Novel,  Sastra,  Seni & Budaya,  Series,  Story

Mammon (Perjanjian Terlarang)

Bab 1: Aroma Tanah dan Kehampaan

​Salatiga sore itu dibalut kabut tipis yang turun dari lereng Merbabu, membawa hawa dingin yang sanggup menembus jaket denim lusuh milik Melanie. Namun, bagi Melanie, dingin ini terasa jujur. Jauh lebih jujur daripada udara pengap di pusat rehabilitasi yang berbau karbol dan keputusasaan yang dipaksakan sembuh.

​Mobil travel yang membawanya berhenti tepat di depan gerbang besi berkarat. Di baliknya, berdiri sebuah rumah kolonial yang tampak seperti raksasa yang sedang sekarat—megah, namun pucat dan menyimpan rahasia di tiap sudut plafonnya yang tinggi.

​”Kita sampai, Mel,” suara berat itu memecah lamunan Melanie.

Dodik sudah berdiri di sana, menyambutnya dengan tangan yang terjulur ragu. Pria itu tampak lebih kurus, kulit sawo matangnya sedikit kusam oleh debu gudang, namun matanya masih menyimpan binar kejujuran yang selalu membuat Melanie merasa telanjang.

​Melanie turun dari mobil, mengabaikan uluran tangan Dodik. Ia menghirup udara dalam-dalam. Bukannya kesegaran pegunungan yang ia dapati, hidungnya justru menangkap sesuatu yang lain: aroma melati yang layu, bercampur samar dengan bau logam berkarat—seperti darah yang sudah lama mengering.

​”Kenapa rumah ini sesunyi ini, Dik?” tanya Melanie parau. Tangannya mulai bergetar, sebuah reaksi otot yang tak bisa ia kendalikan sejak ia memutuskan berhenti menyentuh jarum suntik.

​”Mama sedang di dalam. Dia… tidak banyak bicara sejak toko di Semarang habis,” jawab Dodik pelan sambil membawakan tas kanvas Melanie. “Ayo masuk, Mel. Udara mulai tidak enak.”

​Melanie melangkah melewati pintu jati besar yang berderit nyaring, seolah memprotes kehadirannya. Di dalam, ruang tamu yang dulu penuh dengan pajangan emas peninggalan Engkong kini tampak lowong. Lemari-lemari kaca itu kosong, hanya menyisakan bekas debu berbentuk persegi.

​Tiba-tiba, Melanie merasakan denyut itu lagi. Penyakit lamanya. Rasa lapar yang bukan berasal dari perut, melainkan dari bawah kulitnya. Pandangannya terpaku pada tengkuk Dodik yang basah oleh keringat saat pria itu membungkuk meletakkan tas. Hasratnya mendidih secara instan, sebuah dorongan primitif yang terasa seperti dipicu oleh sesuatu yang tak kasat mata di ruangan itu.

​”Melanie?”

​Suara itu datang dari kegelapan tangga. Mama berdiri di sana, menggenggam tasbih kayu hitam dengan buku jari yang memutih. Wajahnya nyaris tidak dikenali; pipinya kempot dan matanya cekung, seolah ada sesuatu yang terus-menerus mengisap kehidupan dari dalam tubuhnya.

​”Kamu pulang hanya untuk melihat kami mati, atau untuk ikut dikubur?” ucap Mama tanpa basa-basi, suaranya sedingin lantai marmer di bawah kaki Melanie.

​Melanie membeku. Di sudut matanya, ia melihat bayangan di cermin besar di ruang tengah bergerak. Bukan bayangan dirinya, bukan bayangan Mama. Itu adalah bayangan seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jaket yang sangat rapi, berdiri tepat di belakangnya, mengulurkan tangan seolah ingin membelai rambutnya.

​Melanie berbalik dengan cepat, namun ruangan itu kosong. Hanya ada Dodik yang menatapnya cemas dan Mama yang terus memutar tasbihnya dengan kecepatan yang tidak wajar.

​”Engkong menunggumu di bawah tanah, Mel,” bisik Mama lagi, kali ini dengan seringai yang lebih mirip dengan rintihan. “Kontraknya belum lunas. Dan kau adalah satu-satunya emas yang tersisa.”

Bab 2: Kematian Sang Pewaris Pertama

​Malam pertama di Salatiga tidak memberikan ketenangan yang dijanjikan. Melanie terjaga di kamarnya yang berplafon tinggi, menatap putaran kipas angin tua yang berderit ritmis. Di dinding, foto keluarga besar mereka masih terpasang—Engkong duduk di tengah seperti kaisar kecil, dikelilingi anak cucunya. Wajah Aldo, si sulung, telah dicoret dengan spidol hitam oleh tangan Mama yang depresi.

​”Aldo tidak mati karena selingkuhannya, Mel,” suara Mama bergema di kepala Melanie, teringat percakapan singkat di meja makan tadi malam yang hanya berisi nasi putih dan sayur hambar. “Dia mati karena dia mencoba mencuri dari piring Iblis.”

​Pagi harinya, Melanie memaksa Dodik mengantarnya ke Jogja. Ia harus melihat sendiri sisa-sisa kehancuran Aldo. Perjalanan itu sunyi. Dodik menyetir dengan rahang terkatup rapat. Ada ketegangan yang aneh di dalam mobil—setiap kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat Dodik mengoper gigi, Melanie merasa seperti tersengat listrik. Gairahnya mulai memberontak, namun rasa ngerinya jauh lebih besar.

​Puing-Puing Kegilaan

​Rumah Aldo di Jogja terletak di kawasan mewah, namun kini tampak seperti bangkai yang membusuk. Garis polisi sudah lama dilepas, tapi aroma sangit sisa kebakaran masih menempel di pori-pori dinding.

​”Aldo gila di sini, Mel,” Dodik berbisik saat mereka melangkah masuk ke ruang kerja Aldo yang berantakan. “Sebelum dia gantung diri, dia mengurung diri selama sebulan. Dia bilang dia mendengar suara koin emas jatuh di setiap sudut ruangan.”

​Melanie memungut selembar kertas dari lantai. Itu adalah catatan medis karyawati Aldo yang meninggal. Namanya Sari, namun di bawahnya, Aldo menuliskan nama Dewi berulang-ulang dengan tinta merah hingga kertas itu nyaris bolong.

​”Dewi itu kakak kita yang hilang, kan?” tanya Melanie pada ruang kosong.

​Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Dodik yang berdiri di ambang pintu tampak mematung. Di cermin meja rias yang retak, Melanie melihat pantulan Aldo. Kakaknya itu tampak kurus kering, matanya melotot dengan lidah menjulur biru karena jeratan tali. Namun, yang lebih mengerikan adalah sosok yang berdiri di samping Aldo.

​Pria tampan dengan setelan jaket kulit hitam. Mammon.

​Iblis itu meletakkan tangannya di bahu Aldo yang sudah jadi mayat, lalu menatap Melanie lewat pantulan cermin. Mammon tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang terlalu putih, terlalu sempurna.

“Kakakmu mencoba menipu aku dengan janji palsu, Melanie,” suara itu muncul langsung di dalam otak Melanie, bukan lewat telinga. “Dia menjanjikan bayi di rahim selingkuhannya sebagai tumbal baru, tapi dia lupa… aku hanya menerima darah murni dari garis keturunan kakekmu.”

​Hasrat Terkutuk

​Ketakutan itu memicu reaksi kimia dalam tubuh Melanie. Alih-alih lari, ia justru merasa lemas dan panas. Penyakitnya kumat di saat yang paling tidak tepat. Ia berbalik dan menerjang Dodik yang masih terpaku.

​Melanie mencium Dodik dengan liar, penuh keputusasaan. Ia menarik kerah baju Dodik, mendesak pria itu ke dinding yang hangus. Ia butuh pengalihan. Ia butuh rasa sakit atau kenikmatan untuk mengusir bayangan Aldo dan Mammon.

​”Mel… jangan di sini. Ini rumah orang mati!” Dodik mencoba melepaskan diri, tapi napasnya mulai memburu. Bau keringat Dodik yang maskulin bercampur debu ruangan terasa seperti narkoba baru bagi Melanie.

​”Diam, Dik… biarkan aku merasa hidup sebentar saja,” rintih Melanie di leher Dodik.

​Namun, di sela-sela ciuman itu, Melanie melihat ke arah sudut ruangan. Mammon masih di sana, menonton mereka dengan tatapan seorang kolektor yang sedang melihat barang berharga. Mammon tidak marah melihat mereka bermesraan; dia justru tampak menikmati.

“Teruslah, Melanie…” bisik Mammon. “Cintai dia. Buatlah benih di rahimmu. Aku butuh pewaris baru untuk menggantikan Aldo yang gagal.”

​Melanie tersentak dan melepaskan Dodik. Ia jatuh terduduk di lantai, menangis histeris. Ia menyadari sebuah kebenaran pahit: nafsunya yang meledak-ledak bukan sekadar penyakit mental, melainkan cara Mammon menggiringnya untuk memproduksi tumbal berikutnya.

​”Kita harus pergi, Dik! Sekarang!” teriak Melanie.

​Dodik, yang bingung dan terangsang sekaligus, hanya bisa merapikan bajunya yang berantakan. “Ada apa, Mel? Apa yang kamu lihat?”

Baca Juga  Solo International Performing Arts (SIPA) 2021

​”Kematian, Dik. Aku melihat cara kita mati.”

Bab 3: Pohon yang Kering

​Jogja di malam hari terasa seperti labirin lampu kuning yang menyesakkan. Setelah insiden di rumah Aldo, Melanie tidak berani memejamkan mata. Setiap kali ia berkedip, ia melihat senyum Mammon yang sempurna di balik kelopak matanya. Mereka tidak kembali ke Salatiga; atas petunjuk Mama yang diberikan lewat telepon dengan suara gemetar, mereka harus menuju ke arah Godean.

​”Cari rumah di dekat makam tua yang tidak terurus,” pesan Mama. “Cari Om Rey. Hanya dia yang berani menatap mata Engkong saat perjanjian itu diperbarui sepuluh tahun lalu.”

​Dodik memacu mobil menembus jalanan desa yang sempit. Di sampingnya, Melanie meringkuk, memeluk lututnya sendiri. Tangannya yang bergetar kini mulai terasa gatal, sebuah sensasi withdrawal yang bercampur dengan energi gelap dari rumah Aldo.

​Lelaki yang Menolak Takdir

​Mereka sampai di sebuah rumah bambu yang sangat sederhana, berdiri terisolasi di antara rumpun pohon pisang dan nisan-nisan tua yang sudah lumutan. Di teras, seorang pria paruh baya sedang duduk melinting tembakau. Dia hanya memakai sarung dan kaos kutang. Wajahnya bersih, tanpa kumis atau jenggot, dengan gurat ketenangan yang ganjil.

Om Rey.

​”Darah emas akhirnya datang mengetuk pintu bambu,” ucap Om Rey tanpa menoleh. Suaranya halus, hampir feminin, namun memiliki otoritas yang dingin.

​”Om…” Melanie turun dari mobil dengan kaki lemas. “Aldo sudah mati. Rian juga. Mama bilang Om tahu cara menghentikannya.”

​Om Rey berdiri, menatap Melanie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya berhenti sejenak di perut Melanie, membuat gadis itu merasa seolah rahimnya sedang di scan oleh sinar X.

​”Masuklah. Dan bawa pria pribumi itu bersamamu,” kata Om Rey sambil melirik Dodik yang berdiri waspada di belakang Melanie. “Mammon tidak suka menunggu di luar rumah. Dia sudah duduk di atas mobilmu sejak kalian meninggalkan kota.”

​Dodik bergidik, menoleh ke arah atap mobil yang kosong, namun ia tidak bertanya. Ia mulai menyadari bahwa logika tidak punya tempat di keluarga ini.

***​Rahasia Buyut dan Emas Hitam

​Di dalam rumah yang hanya diterangi lampu minyak, Om Rey menyajikan kopi pahit. Tidak ada gula, tidak ada basa-basi.

​”Kakekmu, Engkong, bukan orang kaya. Dia hanya buruh angkut di pasar,” Om Rey memulai cerita. “Tapi dia serakah. Dia membawa orang tuanya sendiri—Buyutmu—ke Hutan Larangan. Dia menukar nyawa mereka untuk sebuah toko emas kecil. Tapi Mammon bukan bank biasa; bunganya adalah silsilah.”

​Om Rey menyesap kopinya. “Setiap generasi harus memberikan satu perempuan untuk ‘dinikahi’ Mammon—itulah Dewi, kakakmu yang hilang. Dan setiap generasi harus memberikan satu laki-laki untuk menjaga api bisnis—itulah Aldo dan Rian yang gagal.”

​”Lalu kenapa Om selamat?” tanya Melanie.

​Om Rey tersenyum pahit. “Karena aku bersumpah menjadi ‘Wadam’. Bukan secara fisik, tapi secara spiritual. Aku memutus kejantananku di depan Mammon. Aku bersumpah tidak akan pernah menyentuh perempuan, tidak akan pernah menanam benih, dan tidak akan pernah mengambil satu sen pun harta Engkong. Aku memilih menjadi pohon yang kering agar Mammon tidak bisa hinggap.”

​Ia menatap Dodik dengan tajam. “Tapi kau, anak muda… kau adalah masalahnya. Mammon tidak bisa memanen dari pohon yang kering seperti aku, tapi dia bisa memanen dari rahim Melanie jika kau yang menyiraminya.”

​Dilema di Bawah Bayang-Bayang

​Malam itu, Melanie dan Dodik harus menginap di kamar tamu yang sempit. Ketegangan di antara mereka memuncak. Ruangan itu hanya beralaskan tikar pandan. Suara jangkrik di luar terdengar seperti bisikan ribuan koin emas yang saling beradu.

​Melanie merasa suhu tubuhnya naik. Hasratnya menyerang lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Di kegelapan, ia melihat Dodik yang sedang duduk bersandar di dinding, menatap jendela.

​”Dik…” Melanie merangkak mendekat. “Aku takut.”

​Dodik menoleh, matanya menunjukkan pergulatan batin. Ia tahu apa yang dikatakan Om Rey, tapi melihat Melanie yang hancur seperti ini membangkitkan insting pelindungnya—dan sesuatu yang lebih liar.

​”Mel, kita harus menahan diri. Kamu dengar apa kata pamanmu tadi…”

​”Aku tidak bisa, Dik! Di dalam kepalaku, Mammon terus berteriak! Dia bilang kalau aku tidak melakukannya denganmu, dia akan mengambil Mama!” Melanie menangis, menarik kaos Dodik dengan kasar.

​Saat Melanie mencium Dodik, pintu kamar yang terkunci tiba-tiba terbuka perlahan oleh angin yang tidak ada sumbernya. Di ambang pintu, Melanie melihat sosok pria tampan dengan jaket hitam itu berdiri lagi. Mammon tidak melakukan apa-apa; dia hanya menonton dengan tangan bersedekap, matanya yang keemasan berkilat penuh kemenangan.

​Mammon seolah sedang menunggu benih pertama ditanam, agar ia bisa segera menagih nyawa berikutnya.

​”Jangan, Dik… jangan berhenti…” bisik Melanie dalam tangisnya, terjepit di antara cinta pada Dodik dan kontrak iblis yang haus darah.

Bab 4: Cahaya di Ambang Kegelapan

​Pagi di Godean datang dengan kabut yang tidak biasa; ia tidak sejuk, melainkan terasa lengket di kulit. Om Rey sudah berdiri di depan rumah, menatap ke arah lereng Gunung Merapi yang puncaknya tertutup awan hitam. Di sampingnya, Melanie berdiri dengan wajah pucat, sementara Dodik tampak berantakan, matanya merah karena kurang tidur dan beban batin yang semakin berat.

​”Kopi pahit tidak akan cukup untuk perjalanan ini,” ucap Om Rey tanpa menoleh. “Hasratmu semalam, Melanie… itu adalah undangan. Mammon sudah mulai ‘membangun sarang’ di pikiranmu. Jika kita tidak bergerak sekarang, kalian berdua hanya akan menjadi alat reproduksi bagi iblis itu.”

​Dodik maju selangkah, suaranya parau. “Ke mana kita harus pergi, Om? Saya tidak bisa hanya diam melihat Melanie tersiksa seperti ini.”

​”Kita akan menemui Kiai Soleh. Beliau tinggal di sebuah pesantren tua di pinggiran Hutan Larangan. Hanya dia yang punya ‘kunci’ untuk berbicara dengan entitas sekuno Mammon tanpa kehilangan nyawa,” jawab Om Rey tegas.

​Pesantren di Lereng Merapi

​Perjalanan ditempuh selama dua jam menanjak. Mobil tua Dodik menderu, berjuang melawan tanjakan curam. Sepanjang jalan, Melanie merasa seolah ada ribuan mata yang menatap dari balik pepohonan jati. Sesekali ia melihat sosok pria tampan bersetelan jaket berdiri di pinggir jalan, menghilang setiap kali ia berkedip. Mammon sedang mengawal mereka, seolah memastikan mangsanya tidak lari terlalu jauh.

​Mereka sampai di sebuah bangunan kayu yang bersahaja. Di sana, seorang pria tua dengan jubah putih bersih sedang duduk di atas sajadah di teras gubuknya. Itulah Kiai Soleh. Wajahnya penuh kerutan, namun matanya memancarkan ketenangan yang sanggup meredam kegelisahan Melanie sejenak.

​”Duduklah, Putri dari Garis Emas,” sapa Kiai Soleh lembut. “Dan kau, anak muda yang membawa beban orang tua di bahumu… duduklah di sampingnya.”

​Kiai Soleh tidak menggunakan kemenyan. Ia hanya menyalakan sebatang kayu gaharu yang aromanya seketika mengusir bau busuk melati yang selama ini mengikuti Melanie.

​”Saya ingin memutus kontrak ini, Kiai,” Melanie memulai, suaranya bergetar. “Saya sudah kehilangan dua kakak saya. Saya tidak ingin Dodik menjadi korban berikutnya.”

​Kiai Soleh menghela napas panjang. “Pesugihan ini bukan sekadar hutang uang, Melanie. Ini adalah hutang eksistensi. Kakekmu meminjam kemuliaan dunia dari Mammon, dan sebagai jaminannya, ia menjaminkan setiap tetes darah keturunannya. Untuk memutusnya, kau harus masuk ke pusatnya: Hutan Larangan.”

Baca Juga  Maestro Media Point of Sale

​Mediasi dan Penampakan Mammon

​Kiai Soleh meminta Melanie menutup mata. Beliau mulai merapalkan ayat-ayat suci dengan nada yang rendah dan berwibawa. Seketika, suasana di teras itu berubah. Angin kencang bertiup meski dedaunan di sekitar tidak bergerak.

​Dalam kegelapan batinnya, Melanie melihat dirinya berdiri di tengah lautan koin emas yang membara. Di depannya, Mammon muncul. Kali ini ia tidak tersenyum. Wajah tampannya tampak dingin dan angkuh.

“Kiai tua ini tidak akan bisa menolongmu, Melanie,” suara Mammon bergema, memicu denyut gairah di sekujur tubuh Melanie. “Dia hanya menawarkan doa, sementara aku menawarkan keabadian. Lihatlah Dodik… bukankah dia tampak lelah? Aku bisa menjadikannya raja, asalkan kau memberikan apa yang menjadi hakku.”

​”TIDAK!” teriak Melanie dalam meditasinya.

​Di dunia nyata, tubuh Melanie mulai mengejang. Cairan hitam berbau logam keluar dari pori-pori kulitnya. Dodik panik dan mencoba memegang tangan Melanie, namun Kiai Soleh mencegahnya.

​”Jangan disentuh! Itu adalah residu kutukan yang sedang dipaksa keluar!” bentak Kiai Soleh.

​Tiba-tiba, bayangan Melanie di lantai memanjang dan membentuk sosok pria tampan yang memegang pundak Melanie. Dodik terperangah; ia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa nyata ancaman ini. Sosok bayangan itu menatap Dodik dengan mata keemasan yang berkilat, seolah menantangnya.

​”Melanie harus masuk ke Hutan Larangan besok malam,” Kiai Soleh berkata setelah suasana kembali tenang. Melanie jatuh pingsan di pangkuan Dodik. “Kita harus melakukan mediasi fisik di lokasi perjanjian pertama. Tapi ingat, Dodik… Mammon akan menggunakan cintamu sebagai senjatanya. Dia akan membuatmu merasa bahwa menikah dengan Melanie adalah cara untuk menyelamatkannya, padahal itulah cara ia mengunci kontrak selamanya.”

​Dodik menatap wajah Melanie yang pucat. Ia terjepit di antara keinginan untuk memiliki wanita itu dan ketakutan bahwa cintanya akan menjadi vonis mati bagi mereka berdua.

​”Apa pun taruhannya, Kiai,” bisik Dodik mantap. “Saya akan menemaninya.”

Bab 5: Gerbang Tak Kasat Mata

​Pagi di lereng Merapi tidak membawa kehangatan. Kabut tebal turun seperti tirai putih yang menyembunyikan dunia dari pandangan Tuhan. Kiai Soleh telah menyiapkan sebuah bungkusan kain kafan berisi garam kasar, lada hitam, dan potongan bambu kuning.

​”Hutan Larangan bukan sekadar tempat dengan pepohonan,” ucap Kiai Soleh sambil memberikan tongkat kayu pada Dodik. “Itu adalah dimensi yang tumpang tindih. Jika hatimu ragu, kakimu tidak akan pernah menginjak tanah yang sama dengan kami. Kau akan tersesat di ruang hampa selamanya.”

​Melanie berjalan dengan langkah gontai. Hasratnya terasa seperti bara api yang diletakkan di bawah kulit perutnya. Setiap kali matanya tak sengaja menangkap gerakan di balik semak, ia melihat Mammon—iblis tampan itu—sedang bersandar di pohon jati, memperhatikannya dengan tatapan seorang pemilik yang sedang mengawasi ternaknya pulang ke kandang.

​Godaan di Jalur Setapak

​Mereka mulai memasuki wilayah yang tidak lagi terjamah penduduk lokal. Suara burung hutan mendadak hilang, digantikan oleh keheningan yang memekakkan telinga. Udara di sini berbau logam, amis seperti emas yang dicuci dengan darah.

​”Mel…” bisikan itu terdengar sangat jelas di telinga Melanie.

​Melanie menoleh. Ia melihat Dodik berjalan di sampingnya. Namun, Dodik yang ini tampak berbeda. Bajunya terbuka, memperlihatkan dada bidang yang berkeringat. Tatapan Dodik itu penuh nafsu, persis seperti yang sering Melanie bayangkan dalam delusinya.

​”Kenapa kita harus susah payah begini, Mel?” sosok ‘Dodik’ itu berbisik, jemarinya yang kasar namun hangat mulai merayap di pinggang Melanie. “Kita bisa menyerah sekarang. Mammon berjanji akan menyembuhkanmu. Kita bisa punya anak yang tampan, rumah yang lebih besar dari milik Aldo, dan kita tidak perlu takut lagi…”

​Melanie terengah. Kelemahannya mulai teruji. Ia hampir saja berhenti dan membalas pelukan sosok itu, namun suara ketukan tongkat Kiai Soleh di atas batu menyentaknya.

​”Melanie! Jangan melihat ke samping!” teriak Kiai Soleh tanpa menoleh. “Apa yang kau lihat di sebelahmu hanyalah bayangan dari nafsu yang ia pinjam dari kepalamu!”

​Melanie mengerjap. Saat ia menoleh kembali, sosok ‘Dodik’ yang menggoda itu menghilang. Yang ada hanyalah semak berduri yang hampir saja ia peluk. Di depannya, Dodik yang asli menoleh dengan wajah cemas, tetap berjalan di belakang Kiai Soleh dengan beban tas di punggungnya.

​Titik Perjanjian

​Setelah menempuh perjalanan yang terasa seperti ribuan tahun, mereka sampai di sebuah tanah lapang yang ganjil. Di tengah hutan yang rimbun itu, ada lingkaran tanah yang sama sekali tidak ditumbuhi rumput. Di pusatnya terdapat sebuah batu datar besar yang berkilau kuning kusam—Batu Pesugihan.

​”Di sinilah Engkongmu menyembelih silsilah keluarga kalian,” suara Om Rey terdengar parau. Ia tampak gemetar, memori masa kecil saat ia dibawa ke sini oleh Engkong mulai membayangi.

​Kiai Soleh mulai menaburkan garam di sekeliling batu. “Duduklah di atas batu itu, Melanie. Dodik, pegang pundaknya. Apa pun yang terjadi, jangan pernah lepaskan. Jika kau melepaskannya, Mammon akan menyeretnya masuk ke alam sana secara fisik.”

​Melanie naik ke atas batu yang terasa sedingin es itu. Begitu kulitnya bersentuhan dengan permukaan batu, suara jeritan ribuan orang seolah meledak di telinganya. Ia melihat visi tentang Buyut—orang tua Engkong—yang dirantai dengan emas di bawah batu ini, kulit mereka mengelupas menjadi kepingan logam.

​Tiba-tiba, angin puyuh menghantam lapangan itu. Pohon-pohon besar melengkung hingga hampir patah. Dari tengah kegelapan hutan, Mammon muncul secara fisik.

​Kali ini, dia mengenakan setelan jas hitam dengan dasi sutra merah darah. Ketampanannya menyilaukan, hampir membuat Melanie lupa akan kengerian yang ia bawa. Mammon melangkah perlahan ke dalam lingkaran garam, dan anehnya, garam itu menghitam dan terbakar saat disentuh sepatunya.

“Selamat datang di rumah, Pengantin Kecilku,” suara Mammon terdengar sangat lembut, namun sanggup menggetarkan tulang rusuk Melanie.

​Ia tidak menatap Melanie. Mata emasnya menatap tajam ke arah Dodik.

“Dodik… putra dari buruh yang setia. Apakah Kiai tua ini memberitahumu kenapa orang tuamu mati terbakar?” Mammon tersenyum, senyum yang meruntuhkan segala pertahanan batin. “Bukan karena takdir, Dodik. Tapi karena Mama dari gadismu ini yang mengunci pintunya dari luar.”

​Dodik tertegun. Genggamannya di pundak Melanie melemah. Dunia seakan berhenti berputar bagi pria itu.

Bab 6: Tumbal yang Tertukar

​Hutan Larangan mendadak senyap, seolah alam pun menahan napas mendengar kalimat Mammon. Angin yang tadi menderu kini hanya berupa bisikan dingin yang membawa bau sangit arang lama.

​Dodik mematung. Jemarinya yang tadi mencengkeram bahu Melanie kini melonggar, bergetar hebat. “Apa yang kau katakan, Iblis?” suara Dodik parau, nyaris habis di tenggorokan.

​Mammon melangkah satu inci lebih dekat. Setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang memuakkan. “Tanyakan pada wanitamu, Dodik. Tanyakan pada Rahayu. Malam itu, di toko Semarang, Aku tidak meminta emas. Aku meminta darah pewaris. Tapi Rahayu terlalu mencintai kemewahannya. Dia tidak rela memberikan salah satu anaknya, jadi dia mengunci orang tuamu di dalam gudang saat api mulai memakan atap.”

​Mammon terkekeh, suara yang seperti denting koin jatuh di atas batu nisan. “Orang tuamu bukan korban kecelakaan, Dodik. Mereka adalah ‘pengganti’ yang diberikan Rahayu agar Melanie dan kakak-adiknya tetap hidup untuk sementara.”

Baca Juga  Indonesia Pusaka - Instrumental Musik Akustik Lagu Nasional Indonesia | Digital Mantra

​Kehancuran Kepercayaan

​Melanie mendongak, menatap Dodik dengan mata yang basah oleh air mata kehinaan. Ia melihat wajah pria yang dicintainya itu berubah; dari kekhawatiran yang tulus menjadi kemarahan yang membatu.

​”Dodik… aku… aku tidak tahu…” isak Melanie.

​”Tapi kau merasakannya, kan, Melanie?” sela Om Rey dari sudut lingkaran, suaranya penuh sesal. “Itulah sebabnya Mama selalu memperlakukan Dodik dengan sangat baik. Bukan karena sayang, tapi karena rasa bersalah yang membusuk. Dia memelihara anak dari orang yang dia bunuh.”

​Dodik melepaskan tangannya sepenuhnya dari bahu Melanie. Ia mundur selangkah, keluar dari area perlindungan Kiai Soleh.

​”Jadi selama ini aku mengabdi pada pembunuh?” Dodik tertawa kering, sebuah tawa yang terdengar lebih menyeramkan daripada suara Mammon. “Aku bekerja keras menyelamatkan toko yang dibangun di atas abu tulang orang tuaku sendiri?”

​Manifestasi Sang Iblis

​Mammon memanfaatkan celah itu. Ia muncul tepat di belakang Dodik, meletakkan tangan putihnya yang dingin di pundak pria itu. Anehnya, Dodik tidak menolak. Rasa sakit hati yang luar biasa telah menghancurkan benteng spiritualnya.

“Dodik, kau punya hak untuk marah,” bisik Mammon, suaranya manis seperti madu yang meracuni. “Bergabunglah denganku. Nikahi Melanie, ambillah rahimnya, dan aku akan memberikan semua emas yang pernah dicuri darimu. Kau tidak perlu menjadi budak lagi. Kau bisa menjadi pemilik dari segalanya.”

​”DODIK, JANGAN DENGARKAN DIA!” teriak Kiai Soleh. Sang Kiai mencoba menghantamkan tongkatnya ke arah Mammon, namun Mammon hanya menjentikkan jarinya.

​Seketika, Kiai Soleh terlempar menghantam pohon beringin tua. Tongkatnya patah. Kekuatan spiritual yang terkumpul hancur berantakan karena pelindung utamanya—kejujuran dan niat suci Dodik—telah retak.

​Dilema di Atas Batu Pesugihan

​Melanie merasa tubuhnya tersedot oleh dinginnya batu di bawahnya. Tanpa pegangan Dodik, kutukan itu mulai menarik jiwanya. Ia melihat bayangan hitam keluar dari bawah batu, mencoba melilit kakinya.

​”Dodik! Tolong aku!” jerit Melanie.

​Dodik menatap Melanie. Di matanya kini ada pergulatan antara cinta yang dalam dan kebencian yang mendidih. Ia melihat wanita yang ia cintai, tapi di wajah Melanie, ia juga melihat wajah Ibu Rahayu—wanita yang membiarkan orang tuanya terbakar hidup-hidup.

​Mammon tersenyum penuh kemenangan. “Pilih, Dodik. Biarkan dia ditarik ke alamku sebagai tumbal, atau ambil dia sebagai milikmu melalui kontrakku. Jadilah ayah dari raja dunia yang baru, atau biarkan garis keturunan pembunuh ini berakhir di sini dengan tragis.”

​Melanie merayap di atas batu, tangannya terulur pada Dodik. “Dik, kalau kau ingin membenciku, bencilah aku… tapi jangan biarkan dia menang…”

​Dodik terdiam. Ia menatap tangan Melanie, lalu menatap Mammon yang berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Di tengah hutan yang gelap itu, sebuah keputusan besar harus diambil: Menyelamatkan Melanie dengan cara menjual jiwa, atau membiarkan dendam menghanguskan segalanya.

Bab 7: Tiga Malam Menuju Kiamat

​Hutan Larangan melepaskan mereka dengan sebuah kesepakatan yang menggantung. Mammon menghilang bersama kabut, memberikan waktu “tiga malam” bagi Melanie untuk memutuskan. Jika dalam tiga malam ia tidak menyerahkan diri melalui ikatan dengan Dodik, maka Mama dan Om Rey akan menjadi tumbal penutup yang mengerikan.

​Mereka kembali ke Salatiga dalam kehampaan. Dodik tidak lagi bicara. Kejujuran yang selama ini ia agungkan hancur setelah tahu bahwa ia telah mengabdi pada wanita yang mengunci pintu kematian orang tuanya.

​Malam Pertama: Pelarian yang Sia-sia

​Rumah besar itu terasa seperti peti mati yang dilapisi beludru. Melanie mengunci diri di kamar, namun getaran di tangannya semakin hebat. Penyakit hyper-nya bukan lagi sekadar dorongan seksual; itu adalah cara Mammon mencakar dinding rahimnya dari dalam.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Bukan Dodik, melainkan Mama.

​”Mel,” suara Mama parau. “Menikahlah dengan Dodik. Mama mohon. Hanya itu cara agar kita semua selamat. Mammon berjanji akan memberikan kejayaan yang lebih besar dari zaman Engkong.”

​Melanie menatap ibunya dengan tatapan mual. “Mama sudah membunuh orang tua Dodik, dan sekarang Mama mau aku membunuh masa depan anakku sendiri?”

​”Dunia ini memang kotor, Mel! Kamu pikir rehabilitasimu dibayar pakai apa? Pakai emas yang ditukar nyawa orang lain!” teriak Mama histeris sebelum akhirnya tersungkur di lantai sambil menangis.

​Melanie keluar dari kamar dengan muak. Ia mencari Dodik dan menemukannya di gudang belakang, sedang menatap foto lama toko emas yang terbakar.

​Malam Kedua: Penyerahan yang Pahit

​”Kenapa kamu tidak pergi saja, Dik?” tanya Melanie lirih.

​Dodik menoleh. Matanya kosong. “Ke mana? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Seluruh hidupku adalah kebohongan yang dirancang keluargamu.”

​Melanie mendekat, menyentuh lengan Dodik yang tegang. “Aku mencintaimu, Dik. Tapi aku benci fakta bahwa cintaku adalah makanan bagi Iblis itu.”

​Malam itu, dalam keputusasaan yang memuncak, mereka menyerah pada satu sama lain. Di bawah bayang-bayang lampu temaram, mereka bersatu bukan dengan kebahagiaan, melainkan dengan duka. Melanie merasakan setiap sentuhan Dodik adalah seperti paku yang menyegel kontraknya dengan Mammon.

​Dalam puncak gairah yang menyakitkan itu, Melanie melihat sosok Mammon berdiri di sudut kamar, tersenyum puas. Iblis itu memegang sebuah rantai emas yang kini terikat erat di leher Melanie dan Dodik.

​Malam Ketiga: Keputusan Sang Pewaris

​Pagi harinya, Melanie bangun dengan ketenangan yang menakutkan. Ia menatap Dodik yang masih tertidur di sampingnya—pria jujur yang kini telah dikotori oleh darah dan air mata silsilahnya.

​Melanie turun ke dapur, mengambil secarik kertas. Ia menuliskan pesan singkat untuk Om Rey dan Dodik.

“Mammon tidak butuh emas kita. Dia butuh garis keturunan ini untuk terus bernapas di dunia manusia. Selama aku hidup, rantai ini tidak akan pernah putus. Dodik, maafkan aku karena telah mencintaimu di dalam neraka ini.”

 

​Melanie menyadari satu-satunya cara untuk menang melawan Mammon adalah dengan membuat kontrak itu kadaluwarsa. Jika pewaris terakhir—rahim terakhir dari garis darah Engkong—lenyap tanpa keturunan, maka Mammon tidak punya lagi tempat untuk berpijak di keluarga ini.

​Ia berjalan menuju gudang penyimpanan bahan kimia yang dulu digunakan untuk memurnikan emas. Di sana, ia mencampur sisa-sisa zat yang ia tahu akan bekerja cepat.

​Saat fajar mulai menyingsing di Salatiga, Melanie berdiri di balkon rumah. Ia melihat sosok Mammon di kejauhan, pria tampan itu tampak panik untuk pertama kalinya. Wajah tampannya mulai retak, menunjukkan wujud aslinya yang penuh dengan karat dan ulat.

​”Kamu tidak akan mendapatkan anakku,” bisik Melanie sambil menelan cairan itu.

​Ia merasakan dingin yang luar biasa menjalar, jauh lebih dingin dari udara Salatiga. Saat tubuhnya jatuh dari balkon, ia melihat Dodik berlari keluar dengan teriakan yang menyayat hati. Namun, Melanie tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bebas. Rantai emas itu putus, hancur menjadi debu bersama nafas terakhir sang pewaris.

TAMAT

​Terima kasih telah mengikuti kisah “Mammon (Perjanjian Terlarang)”. Sebuah cerita tentang bagaimana keserakahan bisa menghancurkan silsilah, dan bagaimana sebuah pengorbanan tragis menjadi satu-satunya jalan menuju kemerdekaan.

Berikut adalah ringkasan utuh dari kisah “Mammon (Perjanjian Terlarang)”, sebuah drama horor supernatural yang melacak kehancuran satu silsilah keluarga akibat perjanjian pesugihan.