-
Arti Istilah Bisa Karena Biasa
Arti Istilah “Bisa Karena Biasa” adalah hal yang sulit / berat tak akan terasa lagi bila sudah sering melakukannya.
-
Arti Peribahasa Angan – Angan Mengikat Tubuh
Angan – Angan Mengikat Tubuh Arti Peribahasa “Angan – Angan Mengikat Tubuh” adalah tersiksa karena pemikirannya sendiri.
-
Hadits tentang Keutamaan Senyum
Hadits tentang Keutamaan Senyum تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ Artinya: “Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi)
-
Puisi Chairil Anwar Pelarian
Pelarian I Tak tertahan lagi remang miang sengketa di sini Dalam lari Dihempaskannya pintu keras tak berhingga. Hancur-luluh sepi seketika Dan paduan dua jiwa. II Dari kelam ke malam Tertawa-meringis malam menerimanya Ini batu baru tercampung dalam gelita “Mau apa? Rayu dan pelupa, Aku ada! Pilih saja! Bujuk dibeli? Atau sungai sunyi? Mari! Mari! Turut saja!” Tak kuasa …terengkam Ia dicengkam malam.
-
Arti Peribahasa Esa Hilang, Dua Terbilang
Esa Hilang, Dua Terbilang Arti Peribahasa “Esa Hilang, Dua Terbilang” adalah berusaha terus dengan keras hati hingga maksud tercapai.
-
Arti Peribahasa Belum Bertaji Hendak Berkokok
Belum Bertaji Hendak Berkokok Arti Peribahasa “Belum Bertaji Hendak Berkokok” adalah belum berilmu / kaya / berkuasa sudah hendak menyombongkan diri.
-
Arti Peribahasa Bagai Air di Daun Keladi
Bagai Air di Daun Keladi Arti Peribahasa “Bagai Air di Daun Keladi” adalah seseorang yang susah diberi tahu / dinasihati.
-
Menikmati Kesakitan
Rasa sedih ini menghantuiku akhir-akhir ini. Takut kepada ketidakpastian yang memburuku untuk terus mencari jati diri. Merasa dikalahkan oleh keadaan yang kurasa siapapun tak menginginkannya. Dipaksa, terpaksa dan memaksa diri untuk terus menyelaraskan keinginan dengan dharma semesta. Aku butuh waktu untuk berdiam diri. Membiarkan entitas lain menuntunku entah kemana. Ketidakpercayaan, kepasrahan, mengendapkan hasrat tuk menyingkirkan kekotoran bathin selama ini. Sebuah proses kalibrasi, ketepatanku berdiri di salah satu sudut dunia. Lelah atas pergolakan pikir yang menjadi batu sandungan dalam perjalanan lakuku. Berhenti sejenak untuk mengobati luka, sembari berpikir mencari jalan lain atau memilih terus melanjutkan melalui jalan yang sama. Jalan yang tak mudah dilalui, penuh kerikil tajam, menanjak dan berkelok. Kuharus…























