batik kawung

Motif Batik Kawung Wujud Keselarasan Alam dan Manusia

Batik Plesir Jateng Seni & Budaya

Salah satu pendapat kata kawung berasal pada kata bahasa Jawa suwung, yang artinya kosong. Motif batik kawung umumnya dianggap terinspirasi dari bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang dibelah menjadi dua sehingga tampak empat cekungan ke empat penjuru sudut.

Filosofi yang terkandung pada pohon aren mulai dari atas (ujung daun) hingga pada akarnya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, hal tersebut menyiratkan agar manusia berguna bagi semua orang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, juga bernegara.

Motif kawung bermakna kesempurnaan, kemurnian dan kesucian. Dalam kaitannya dengan kata suwung yang berarti kosong, motif kawung menyimbolkan kekosongan nafsu dan hasrat duniawi, sehingga menghasilkan pengendalian diri yang sempurna. Kekosongan ini menjadikan seseorang netral, tidak berpihak, tidak ingin menonjolkan diri, mengikuti arus kehidupan, membiarkan segala yang ada disekitarnya berjalan sesuai kehendak alam. Semar, manusia titisan dewa yang berakhlak sangat baik dan bijaksana, selalu mengenakan motif kawung ini.

Dalam beberapa buku sejarah menyebutkan bahwa motif batik kawung hanya dikhususkan bagi para keluarga bangsawan atau para pejabat keraton. Motif batik kawung mempunyai pola geometris yang juga memiliki makna khusus dalam filosofi adat jawa yaitu mencerminkan adanya satu titik pusat kekuatan dan kekuasaan di dalam alam semesta, dan juga pada manusia. Episentrum power atau kekuasaan didalam motif batik kawung yaitu motif kawung (kolang-kaling) dikelilingi oleh empat bulatan atau persegi empat, atau kumpulan bintang sebagai wujud penyatuan unsur yang selaras, yaitu unsur alam (Makro Kosmos) dan unsur manusia (Mikro Kosmos).

Motif batik kawung merepresentasikan bahwa seorang raja merupakan inti atau pusat kekuatan semesta, pemimpin manusia, pelindung yang lemah dan benar, dan juga seorang wakil Tuhan atau representasi dari Dewa dalam Agama Kapitayan yang dianut oleh masyarakat jawa kuno.

Baca Juga  Geguritan Bab Jongko Donya