Pandemi : Saatnya Koreksi dan Memperbaiki Diri

Kehidupan berubah pasca pandemi COVID19 menerpa hampir di seluruh penjuru dunia. Semua orang ketakutan dan kematian menghantui di tiap keluarga. Banyak dari kita kehilangan sanak saudara, teman dan rekan kerja. Ekonomi menurun, bisnis hancur, hingga pengangguran merajalela.

Ada yang merampas hak orang lain, lalu mati muda. Ada yang menyembah diri dan dunia, lalu Tuhan mencukupkan keakuannya. Siapakah kau pencabut nyawa? Pembakar durjana congkak tak tahu tata krama.

Ulah siapa semua ini?

Keterasingan akan kondisi yang terpaksa / dipaksa tak dapat bergerak dan memasuki era baru. Latah informasi dan kesombongan atas ilmu teruji dengan kecerdasan bahwa dunia ini sebenarnya adalah fana. Tak ada kesejatian abadi.

Penulis tersadar melalui fenomena padamnya api abadi.

Gagap kepada kepatuhan bahwa disiplin adalah solusi untuk tetap bertahan di saat yang lain menyerah. Patuh pada protokol kesehatan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta bersyukur atas anugerah Tuhan atas kehidupan.

Dalam pengalaman penulis sebagai seorang yang bergerak di dunia Teknologi Informasi, cukup dilematis memang. Tuntutan akan perubahan saat semua berbasis digital berbanding dengan aturan mengurangi interaksi sosial.

Lalu, dimana jawaban atas keyakinan kami tentang “silaturahmi adalah jalan rezeki”?

Persaingan sehat dan kompetensi dihancurkan monopoli oleh segelintir elit lingkaran penguasa. Mengikisnya kemanusiaan karena semua berlomba untuk bertahan hidup. Target income yang masih menjadi berhala karena terlilit hutang. Seakan besar namun sebenarnya kembung.

Harga komoditas menjadi semakin meninggi, sedangkan biaya produksi dituntut turun hanya sekedar untuk kami bertahan hidup.

Kerakusan ekonomi menjadi pertanda siapa teman sejati?

Adaptasi atau eliminasi

Kami bersyukur sebelum Pandemi ini terjadi, tepatnya pada akhir 2019  turut berperan  menghasilkan karya e Office yang semoga cukup membantu dimana pegawai dapat bekerja kapanpun, dimanapun. Sistem administrasi yang baik diharapkan dapat merubah budaya bertele-tele dan lamban sehingga selalu diperas uang atas nama oli pembangunan. Rekam jejak seseorang terlacak, siapa yang bekerja dengan benar, siapa yang menjadi sampah birokrasi. Tak ada lagi manipulasi tanggal, laporan palsu, koordinasi menjadi tepat dan terukur, serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Terlepas dari kekurangan sistem yang harus diakui karena refokusing anggaran yang Pemerintah lakukan dan sumber daya terbatas, hingga akhirnya beberapa memilih mundur. Fasilitasi yang selama ini kami lakukan hanya untuk ibadah kepada kebaikan sesama manusia.

Semoga Pandemi ini segera berlalu …

Hendro Widitomo

CEO & Founder Maestro Media