Seni & Budaya
-
Puisi Karya Sapardi Djoko Damono – Akulah Si Telaga (1982)
Akulah Si Telaga akulah si telaga: berlayarlah di atasnya; berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma; berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya; sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja — perahumu biar aku yang menjaganya.
-
Geguritan Jawa Apike Titah Lan Alane
Apike Titah Lan Alane Apike para titah Wog kang duwe laku ngalah Sarto gelem mikir-mikir Saben dino nggone salah Sakwise ngrasa salah Mangka nuli enggal tobat Supayane Gusti Allah Enggal nrimo nggone tobat Sakwuse rampung tobat Mangka nuli eling pati Banjur golek sesangune Sangu kanggo gawe mati Ala-ne titah iku Wong kang manut marang hawa Saben dino ngarep-arep Ing olehe pangapura Siro kena ngarep-arep Ing anane pangapura Lamun siro wus temenan Ngibadahe awak iro Kulo matur estu-estu Dateng para derek kula Mugi-mugi dipun galih Wontenipun atur kula
-
Puisi Chairil Anwar Selamat Tinggal
Selamat Tinggal Perempuan… Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu – dalam hatiku? – Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah…!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal Selamat tinggal…!!!
-
Puisi Karya Sapardi Djoko Damono – Kita Saksikan (1967)
Kita Saksikan kita saksikan burung-burung lintas di udara kita saksikan awan-awan kecil di langit utara waktu itu cuaca pun senyap seketika sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya di antara hari buruk dan dunia maya kita pun kembali mengenalnya kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia
-
Puisi Karya Sapardi Djoko Damono – Sajak Tafsir
Sajak Tafsir Kau bilang aku burung? Jangan sekali-kali berkhianat kepada sungai, ladang, dan batu. Aku selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting yang membenci angin. Aku tidak suka membayangkan keindahan kelebat diriku yang memimpikan tanah, tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku ke dalam bahasa abu. Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir agar suara angin yang meninabobokan ranting itu padam. Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu. Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja — aku selembar daun terakhir yang ingin menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba.
-
Makna Pepatah Jawa Lamun Siro Sekti, Ojo Mateni Lamun Siro Banter, Ojo Ndhisiki Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri
Lamun Siro Sekti, Ojo Mateni Lamun Siro Banter, Ojo Ndhisiki Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri Demikian pepatah Jawa yang dikutip presiden Joko Widodo di sosial media twitter pada tanggal 25 Mei 2019 lalu. Meskipun zaman sudah maju dengan teknologi yang berkembang sangat pesat, namun hebatnya para pemimpin kita tetap memegang teguh petuah-petuah Jawa sehingga tidak meniggalkan kearifan luhur bangsa ini. “Lamun siro sekti, ojo mateni” bermakna meskipun kamu sakti, namun jangan membunuh. “Lamun siro banter, ojo ndhisiki” bermakna meskipun kamu cepat, namun jangan mendahului. “Lamun siro pinter, ojo minteri” bermakna meskipun kamu pandai, namun jangan sok pintar (membodohi). Jika kita cermati petuah ini mengandung makna yang sangat mendalam. Perlu kita…
-
Cerpen Misteri – Sahabat Kecilku | Hendro Widitomo
Hai namaku Widi, aku mau bercerita tentang masa kecilku yang menyenangkan bersama teman-teman. Kisah ini terjadi di tahun 80an di sebuah kota berkembang di sudut Pulau Jawa. Saat itu mungkin umurku baru 4 tahun. Sebuah usia yang masih penuh riang, canda tawa, dan kemanjaan dari kedua orang tua. Di rumah kami tinggal berempat. Ada bapak, ibu dan kakakku yang waktu itu yang masih berusia 6 tahun. Memang jarak usia kami cukup dekat sehingga sering bermain bersama. Sama seperti bocah pada umumnya, kami dibesarkan di sebuah kampung yang ramai teman sepermainan. Setiap sore kami berkumpul di pelataran untuk bermain permainan tradisional. Ada kelereng, lompat tali, engklek, gobak sodor dan sebagainya. Waktu…
-
Geguritan Jawa Pangan Kanggo Ibadah
Pangan Kanggo Ibadah Lamun siro golek pangan Kanggo sangu ing ibadah Besuk tangi saka kubur Rai padang ing lorah-lorah Padange rai iro Kaya tanggal ing pat-belas Sebabe Gusti Allah Maring siro paring welas Mula siro golek pangan Iku kudu ngati-ati Supayane Gusti Allah Paring welas kang sayekti Sampun rampung anggen kula Asung engat ing sampeyan Mugi dipun galih Supados-a waget dangan



















